Writing

Buntu

Buntu, kataku. 
Padahal baru saja tahun baru, namun tidak terasa, namanya juga waktu. Asal jangan menjadi halu saja. Teruntuk aku yang belakangan sering dilahap rasa ingin tau. Bukan belakangan, tapi sering kali. Rasa ingin tau yang begitu besar sampai sering dibuat kelabakan. Rasanya seperti sedang meneliti tentang sesuatu, sederhananya bibir berbicara.  Namun, kali ini rasa ingin tau bukan tentang sesuatu yang bisa dinalar. 

Rasa ingin tauku bergeriliya ditempat-tempat yang sukar dijangkau. Biasanya, ada tengat waktunya, seperti ambang batas. Namun, kali ini tidak seperti itu, ada rasa yang pelan-pelan kemudian sambung-menyambung sehingga tercipta tentang satu hal yang enggan kusebutkan. Kupilih satu dari sekian banyaknya pikiranku yang berbicara. Katanya tidak layak jika ini dibawa kedalam sangkar yang paling utama. Rasa ingin tau ini harus tetap berada di gerbang utama pikiran, apalagi hati, jangan sampai.

Sadar dan tidak sadar, ia mulai masuk kedalam relung pikiran sehingga rasa ingin tau pun mulai berwujud nyatanya. Ah, bisa saja hanya satu ada dua lintas ia lewat, jangan terlalu ditakar, biasa saja pikirku. Hingga ada masa dimana sesuatu yang enggan disebut itu mulai merasuk tidak lagi didalam pikiran, terucap ia dalam lisan. Tersipu malu. Untuk apa harus malu katanya, namanya manusia. 

Mungkin, bagi beberapa orang lumrah rasanya. Namun, untuk orang-orang yang sering diam dalam lisannya, tertutup hati dan pikirannya, sebuah rasa ingin tau ini tabu rasanya. Tidak layak ia, sehingga bungkam adalah solusi. Hati seringkali berteriak, satu-satunya penyelamat untuk rasa ingin tau ini adalah doa. 

Kadang, semakin besar rasa ingin tau ini semakin besar ia menyiksa. Kemudian, berlarilah pikiran menutupi rasa ingin tau, melarikan ia kedalam tempat-tempat yang barangkali sukar dijangkau. Jika sesuatu telah terlanjur terpikirkan, akan berat rasanya untuk menemukan. Selebihnya hanya prediksi,sebuah kemungkinan-kemungkinan.

Rasa ingin tau ini tidak pernah utuh. Akan terus ia berlari. Jika lelah ia terasa, berhenti bukan jawaban. Hanya jeda sekejab, mengumpulkan kekuatan untuk kembali berlari. Sebuah usaha dari rasa ingin tahu kali ini, semoga akal dan pikiran terselamatkan. Semoga semesta mendukung segala rasa ingin tau yang kali ini sangat mengusik keras. 

Semoga, buntu kali ini ada jawabnya.

dewinta~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: