Finding solace amidst the chaos

Jenuh itu pasti. Ada masa dimana setiap hal yang kita lakukan terasa biasa-biasa saja, rasa ingin marah, nyerah, lelah, kecewa segala bentuk emosi yang dikemas dalam pikiran, wajah dan hati dengan sinkronisasi yang pas. 

Mungkin, karena satu, dua atau bahkan beberapa hal membuat semua hal itu menjadi nyata, seperti kalut. Manusia seringkali menerka-nerka; tidak semua, segelintir. Atau pertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul dimasa kini, masa ketika semua menganggap “kita sudah dewasa”. 

Aku cenderung merindukan masa kecilku. Dimana mimpi, ambisi, niat, tawa, tangis dengan segala ceritanya berjalan beriringan tanpa harus merasa takut. “aahh ikut lomba menghitung cepat, ahh ikut olimpiade biologi, ahhh nyoba jadi mayoret maching band, jadi drummer, apalagi? Banyak hal yang dicoba tanpa malu-malu dengan percaya dirinya yang tinggi, tidak mengenal kalah dan lelah. Semua diterima dengan hati yang lapang.

Mungkin kalau dulu aku, mungkin kalau aku, sebaiknya aku, seandainya aku. Cenderung menebak dan melihat kebelakang apakah tanda kita tidak bahagia pada kehidupan yang sekarang? Atau kurang bersyukur dengan pencapaian-pencapaian yang dimiliki.

Sekarang saja bisa dihitung berapa banyak kata “mungkin” muncul di tulisan ini. Salah langkah, salah arah semuanya terlihat seperti penyesalan. Semakin umur bertambah semakin sering hal-hal yang lebih tidak terduga hadir, bagaimana kita bisa menampung segalanya kalau yang sedang menampung tidak baik-baik saja. 

Tarik nafas, mungkin sekarang saatnya memilih dan memilah. Tidak semua sesuatu bisa dipaksakan, ada masanya dimana semua berjalan dengan semestinya. Pun begitu dengan kehidupan dimasa lalu, mungkin otak dan hati melupakan sukarnya perjalanan dimasa lalu hingga ketika dipanggil kenangan itu terasa hilang ia sebagian. Sama seperti sekarang, mungkin jiwa dan hati terasa berat bukan karena tanda tak mampu tapi karena niat sudah tidak imbang ia adanya.

Memulai tidak semudah yang orang bilang, menjalankannya apalagi. Perjalanannya masih panjang, kenapa harus nyerah sekarang kalau kali ini pun semuanya belum habis-habisan.

Lurusin niat lagi, mungkin kemarin niat sudah berubah haluan.

Entah kenapa, sekali lagi kutemukan ketenangan didalam semua kekalutanku. 

dewinta~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: