Life,  Soul,  Writing

Slow down

Kehilangan paling besar menurutku adalah kehilangan diri sendiri. Diri sendiri bukan orang lain. Orang lain datang dan pergi dalam kehidupan itu sudah biasa, sudah lumrah. Ada yang datang tanpa permisi, pergi tanpa pamit, atau sebaliknya. Sumber ketakutanku yang paling besar, kehilangan diri sendiri. Semakin lama rasa takut kehilangan diri sendiri lebih sering dipicu oleh hal-hal sederhana yang bahkan kita sering tidak sadar. Pola berpikir, sifat dan kebiasaan, sesuatu yang sering terjadi berulang-ulang dengan atau tidak sadar. Aku takut, takut kehilangan diriku sendiri. 

Sekalut apapun pikiran manusia memang tidak pernah ada batasnya. Ia bebas berkelana ketempat-tempat yang mungkin sulit untuk dijangkau. Tapi sekali lagi, sebatas pemikiran. Seluas apapun ia tetap saja masih ada garis batas. Aku sering menghujani diriku sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sering kali tidak tertebak. Mungkin ini yang dibilang orang-orang, semakin umur bertambah semakin banyak hal-hal yang tak terduga dalam hidup. Menjadikannya sebagai pertanyaan yang mungkin juga tidak ada jawabannya. 

Seperti laut dan kapal, aku. Berlayar sendirian dalam luasnya lautan mencoba mencari jawaban-jawaban atas pertanyaanku sendiri, dan yang kutemukan hanyalah pertanyaan-pertanyaan kembali. Bagaimana menjelaskannya secara gamblang, kalau ternyata diri sendiri pun masih sering bertanya.

Mempertanyakan semua hal. Aku sering merengkuh semua pertanyaan yang pada akhirnya melayang dalam angan tidak terjawab, seiring dengan ketakutanku akan kehilangan diri sendiri. Bagaimana caranya bertahan dengan diri sendiri, menghilangkan semua keraguan dalam diri sendiri, meyakinkan diri sendiri bahwasannya segala sesuatu memiliki batas.

Untuk sejenak, kurenungkan kembali. Mungkin segala sumber pertanyaan yang kerap muncul adalah hasil dari diri sendiri yang suka berlari tanpa jeda, tanpa melihat kebelakang atau beristirahat sejenak. Sehingga terasa ia lelahnya ketika bertumpu pada satu titik meluap layaknya air bah hingga sulit untuk dikendalikan. Mungkin yang kita butuhkan adalah berjalan dan berlari secukupnya, sebisanya menikmati semua derap langkahnya. Tanpa huru-hara, tidak buru-buru seperti dikejar ambisi yang tiada pernah ada habisnya. 

Kehilangan diri sendiri, bukan ketakutan biasa yang timbul begitu saja. Mungkin sudah saatnya belajar, bahwa segala sesuatu tidak bisa terjadi semaunya saja. Selalu kembali, jikalau manusia memang hanya bisa berniat dan berusaha serta berdoa. Segala sesuatu untuk terjadi dan yang tidak terjadi sudah diputuskan oleh palu-Nya. Bertahan, untuk jiwa yang sering dihadang, diterpa angin hingga mudah goyah. Bahu yang mulai terkulai dan wajah lelah dengan tatapan sendu, yang kita butuhkan kadang memang hanya “istirahat dengan benar”. 

Sirami diri ini dengan sebenar-benarnya istirahat. Tidak apa berjalan pelan tapi pasti, daripada berlari tapi hilang arah. Sehingga diri ini jelas keberadaannya, tidak hilang ia dilahap api ambisi yang tidak jelas.  Yang kita butuhkan mungkin memang hanya jeda, menerima, dan bertahan.

Hingga esok, kembali aku temukan bahwa aku tidak kehilangan diri sendiri. Semua pasti akan baik-baik saja. Seperti kapal yang tau kemana harus berlabuh, semua pertanyaan akan terjawab pada waktunya.

-dewinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: