Creative,  Writing

Tarian sore

Kala datang semburat merah dipelupuk langit
angin yang menari-nari mengelitik wajah
daun-daun bergerak mengikuti arah suara
dalam tarian sore ini,
dan Aku.
Apa kabar?

Tarian sore disini menggema,
hidup dalam resonansi kerinduan
bersama semburat merah ia terasa nyata
dan kau muncul dalam setiap bayangan
sukar diterima.

Tarian sore disini tak pernah sama
maka sukar diterjemahkan
kau tau tarian soreku mungkin indah dimata
menenangkan hati dan memenangkan rindu
tapi terlalu dingin,
bagaimana aku menjelaskannya?

Aku kesulitan menerjemahkan hal-hal
tarian sore, kepada semburat merah, angin ~
dan kepada siapa “engkau” merujuk
hanya rindu yang tidak tau kemana ia bermuara.

Lewat tarian sore yang tenang ini,
sekali lagi sampaikan rindu kepada sosok yang selalu,

dirindukan.

-dewinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: