College,  Life

a small place where I can lean on

Rasanya tidak adil. Sudah setahun lebih disini tapi selalu gagal menulis hal-hal yang kualami, tempat, dunia perkuliahan, dunia sekitar, yang jelas sangat-sangat berbeda dengan Indonesia. Berangkat dari rasa yang kuat ingin menuliskan hal-hal yang dirasa “sayang kalau tidak dituliskan”, aku mulai mencoba menulis. Kaku? Iya kaku. 

Di tengah lokasi kampus, ada satu bakery and coffee yang sering ku-kunjungi. Sebuah toko roti yang menyediakan tempat duduk kecil-kecil dipojokkan. The Ivy bakery and coffee nama tempatnya. Rotinya beragam macam, mulai dari jenis-jenis pastry ringan sampai roti-roti yang cocok dimakan untuk sarapan. Favoritku garlic bread and chocolate classic bread. Kedua ini bisa didapatkan dengan harga $NT50. Taiwan terkenal dengan beragam macam tehnya, walaupun bakery ini menyediakan kopi, aku tidak tertarik untuk mencicipi kopinya, akan lebih baik jika secangkir teh yang menemani rotiku.  “Hot black tea with milk 70% of sugar” padu padanan yang pas sudah untuk dipagi hari. 

In front of store

Pelayan ditoko roti ini sangat ramah, ada dua wanita yang siap menyambut di toko ini. Aura mereka selalu ceria,  seringnya tertawa saling bercanda dengan pelanggan. Pelanggan disini juga tidak selalu asing. Setelah sering kesini kutemukan wajah-wajah yang selalu sama, entah hanya membeli roti atau roti dengan secangkir kopi dan duduk dimeja-meja menghadap kaca jendela.  Bermodalkan zhongwenku yang amburadul gak karuan, sering kuterjemahkan candaan mereka yang seketika menggundakan gelak tawa.

My bike and the chair from outside

Dari kecil, aku sudah terbiasa dengan aroma adonan roti dan kue, aroma ibunda. Jika ditanya aroma apa yang menenangkan, aroma adonan roti khas campuran tepung dan telur jawabannya. Pikiran langsung melayang menuju rumah, tempat sang ibunda berada. Mungkin itu alasanku sering berkunjung kesini, menikmati pagi sendirian. Melihat anak-anak smp dan sma berseliweran menuju sekolah, anak kuliah yang menuju kelas pagi, kakek nenek yang bergandengan tangan sembari berjalan kaki menikmati sinar matahari pagi, dan aku yang duduk dikursi andalan dengan secangkir teh hangat dan bacaan ringan. 

Inside the store

Kadang tempat asing yang pertama kalinya kita datangi tidak lagi menjadi asing. Walaupun sekitar sangat asing, bertemu dengan orang-orang asing, duduk dengan tehnya dan rotinya, sibuk dengan pemikirannya, dan senyum simpul ketika berpapasan mata. Aku menjadi nyaman.

Nyaman yang tidak kuciptakan sendiri, nyaman karena tempat ini yang menawarkan.

Melepas penat.

Sebuah tempat ditengah hiruk pikuknya kampus, pohon-pohon hijau, langit biru cerah tanpa awan, dimusim gugur ini kusadari tempat ini menjadi lebih dari cukup. Istimewa, sebuah tempat yang tenang untuk mengisi baterai diri yang terkadang lelah. 

I found this place, the place that I can lean on,

dewinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: