Creative,  Writing

ANUMATA

Dalam puing-puing harapan kerap berjatuhan

mungkin saja semesta tidak lagi mendukung.Β 

Pun Perangkap yang seringkali memenjarakan,

orang-orang yang berlalu lalang seperti serangga.

Atau, resonansi alam yang sedang bekerja

dan dinginnya wagu terhadap karsamu

Perlahan ia memudar hancur lebur

lewat tiang-tiang kokoh, sepertinya

Kataku.

Sajak-sajak lamamu, sajak-sajak baruku

Tidak lagi berkerja sama pada tempatnya.

Kita sepasang luka yang menolak lupa,

kata-kata yang ku katakan pada cermin yang retak

Maaf, aku pelupa.

Tersadar sekali lagi lewat realita,

Sendirian dalam menampung

mengabur hingga lepas dari ingatan

Regulasinya tidak dalam paradoks yang sama.

Terjemahan realitamu begitu menusuk

pun seluruh carana cinta abur bersama angin.

Maaf aku terlalu percaya diri,

bahwa tanganmu yang membangun dan meruntuhkan banyak hal

ternyata aku hanya memeluk diri sendiri.

dewinta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: