Creative,  Writing

Koma

“You know, you are still my favorite of all. You are the kind of man I always dreamt of.” kataku kala itu.

Kalimat itu seketika terngiang di benakku. Kalimat yang sudah lama kusimpan dan kuredam dalam pikiran bawah sadar dan enggan kubuka kembali. Terkunci rapat ia di benak, dan tidak ada celah sedikit pun untuk dibuka. “Kau“.  Kau lagi, lagi dan selalu lagi. Air mata yang tertahan sejak lama itu pun mengalir bebas terjun tak terkira. Ada beberapa hal yang selalu berusaha disangkal oleh nalar, namun hati selalu tidak pernah bisa berbohong. Bagian-bagian itulah yang terjadi pada detik ini.

Mungkin sebenarnya sudah banyak kesempatan-kesempatan yang datang bertandang. Akan tetapi kita lupa menempatkan kesempatan itu hadir di antara kita. Lupa kalau ternyata keterbatasan itu pasti ada. Dan setelah kesempatan-kesempatan itu, yang tersisa di antara kita hanyalah penyesalan dan luka itu sendiri. Seperti hari ini dari sekian banyak hari. Bisikan-bisikan kecil akan kau, benar-benar merusak momentum yang kuciptakan sendiri. Seperti atom, ia hancur lebur dimakan kenyataan. Ternyata kisah kita terlalu rapuh untuk benar-benar bisa di ajak bekerja sama.

Hati dan logika kita kali ini bekerja pada tempatnya.

Untuk segala jatah yang kurasa tidak akan pernah ada lagi.  Entah itu jatahmu, jatahku atau jatah kita. Semoga kelak semua kembali kepada akal sehat dan tidak menyisakan luka-luka yang baru lagi. Semoga kali ini kita tidak mendahulukan takdir dan sang pencipta dalam kesempatan yang kita punya.

Lalu, apa cerita dibalik kita kala itu ? Mungkin sebagian dari diri kita sama-sama menjadi rumit. Kendala kita satu, lidah menjadi kelu.

You know, you are still my favorite of all.

You are the kind of man I always dreamt of.

I think everything was fine at first. I had learned that love was to give without expecting anything as a return.

That is all I could say, “Hearts couldn’t lie and being honest wasn’t that bad”

Selamat tinggal kita lucunya sering kali tidak bertemu pada presisi yang tepat. Waktu kita tidak pernah bersinggungan di tempat yang sama.

“Kita barangkali semata dua petunjuk waktu berbeda yang detik-detiknya berdetak  tidak serempak“ kata Lang Leav.

aah puisinya kali ini persis seperti catur waktu, antara aku dan…kau.

 

-dewinta

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: