Adventures,  Explore

RODA SEPEDA PART I

Minggu ini tidak seperti minggu kemarin yang dihabiskan dengan hiruk piruk menjalani proses adaptasi di kota Tainan, Taiwan. Waktu seminggu kemarin telah dihabiskan dengan mengurus hal-hal yang mendasar seperti perubahan Visa Resident menjadi Arc, medical check up, pembuatan account Postbank serta melirik-lirik sepeda yang dijadikan sebagai alat transportasi.

Minggu ini sedikit lebih lega, perkuliahan dimulai. Jadwal kuliah tidak sama seperti jadwal kuliah seperti di strata satu dulu, dalam seminggu hanya tiga hari dalam seminggu dan hanya membutukan waktu sekitar 2-3 jam proses ngajar-mengajar. Selebihnya waktu dihabiskan di lab walaupun belum punya project, setidaknya review-review paper bisa dilakukan disana.

Minggu kali ini aku dan Michael (temanku) berencana mengayuh roda sepeda menuju salah satu tempat wisata di kota Tainan ini. Rencana perjalanan kami hanya sekedar chat lewat whatsapp di jam 10 malam, “besok ke Anping yuk?” kataku. Ica panggilan Michael mengirimkan beberapa tempat wisata di daerah Anping, yuk. Kita mau mulai darimana?” balasnya. “Besok jam 8 kita cus langsung, sarapan dulu”.”balasan oke pun muncul hanya beda beberapa detik.

Hari minggu jam 8 pagi lewat 15 menit lebih kami pun berada disalah satu tempat sarapan tradisional khas Taiwan yang berada dekat di dorm universitas. Orang lokal menyebutnya tanping, makanan seperti omelet telur yang memiliki beberapa toping seperti ikan tuna, ekstra keju, dan yang lainya. Tempat ini juga menyajikan roti bakar selai pilihan dan sandwich ala-ala dan dilengkapi dengan minumam khas susu kedelai atau milk tea.

Tanping, Susu Kedelai, Milk tea, Toast isi coklat

Puas mengisi perut kami pun beranjak meninggalkan tempat sarapan dan menuju daerah anping untuk memulai eksplorasi. Butuh waktu kira-kira 8,3 km menuju Anping, target kami dalam perjalanan kali ini ada The Milkfish Palace dan Eternal Golden Castle.

The Milkfish Palace

The Milkfish Palace adalah salah satu museum ekologi yang berada di distrik Anping, kota Tainan yang hanya fokus kepada ikan bandeng. Konsep museum ini bisa dikatakan unik karena memiliki konsep perpustakaan. Inspirasi perpustakaan ini cukup menarik karena selain hanya melihat ikan bandeng kita juga mendapatkan informasi baru seperti sejarah, gambar, bahkan resep-resep pengolahan ikan bandeng.

 

 

The Milkfish Palace memiliki 2 lantai, begitu masuk pemandangan di lantai satu disuguhi oleh etalase-etalase yang menperkenalkan atau menjual produk-produk ikan bandeng. Dimulai dari olahan ikan bandeng fresto, nugget dan sosis bandeng, olahan keripik, cake bandeng, sampai es krim bandeng. Unik ya, mereka benar-benar memanfaatkan satu jenis ikan tapi bisa memiliki manfaat yang banyak, pengolahan yang menurutku benar-benar dimaksimalkan pemanfaatannya.

Lantai 1 The Milkfish Palace

The Milkfish Palace

 

Dilantai kedua kita dapat menemukan informasi yang seperti tadi aku jelaskan diatas, mereka benar-benar menyediakan sejarah, resep dan spot-spot foto yang bagus. Aku dan Michael kira-kira menghabiskan waktu 40 menitan disana.

Me 🙂

Oh iya, The Milk Palace ini juga menyediakan restoran-berbentuk food court yang produknya dari ikan bandeng juga, ini adalah tempat yang cocok untuk kuliner.

Eternal Golden Castle

Eternal Golden Castle berada tepat didepan The Milkfish Palace, usai dari museum kami berjalan menuju lokasi selanjutnya. Sepeda kami parkirkan dengan rapi di tempat parkir sepeda.  Hal yang bagus tentang Tainan adalah sepeda merupakan kendaraan pribadi yang banyak digunakan penduduk Tainan, apalagi mahasiswa. Bunyi klakson juga jarang terdengar, tidak ada kemacetan dan zebra cross yang benar-benar digunakan. Kearifan penduduk Tainan patut dipuji untuk ini. Jika ingin masuk kedalam area benteng ini, diharuskan membeli tiker masuk sebesar NT$ 50.  Ada diskon juga buat pelajar yang memakai student ID, namun saat itu aku dan Michael lupa membawa student ID.

Michael – Ichak

Tiket Masuk Eternal Golden Castle

Eternal Golden Castle merupakan salah satu tembok pertahanan atau benteng. Benteng ini  dibangun untuk membantu tentara Taiwan mempertahankan Tainan dari serangan Jepang. Arsiteknya adalah seorang berkebangsaan Prancis yang disewa oleh pemerintah Taiwan. Dia diminta untuk membuat benteng pertahanan untuk bertahan dari serangan dari arah laut. Secara keseluruhan benteng ini asik untuk berjalan-jalan dan menikmati alam sekitar. Anginnya yang sepoi-sepoi juga mantep seperti sedang syuting music video balad wkwk, dan juga beberapa peninggalan benteng seperti meriam-meriam mengelilingi area benteng ini.

Peta Lokasi Wisata Eternal Golden Castle
Ichak dan meriam-meriam

Selesai berjalan-jalan, kami kembali pulang dengan mengayuh sepeda dengan jarak tempuh 8,3km menuju dorm di NCKU. Melelahkan, cukup melelahkan tapi menyenangkan bisa melakukan hal-hal seperti ini…

See you in the part II of Roda Sepeda

 

Cheers

-dewinta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: