Creative,  Writing

MANDRAKANTA

Satu-satunya pengharapan yang benar adalah dengan benar-benar berharap kepada sang pencipta. Seperti itu intro kehidupan antara kisah kita berdua. Kesalahan ketika berharap pada hati manusia yang mudah di putarbalikan. Begitulah aku dengan segala pengharapanku kepada jarak yang pernah sedekat nadi atau bahkan pernah sejauh lautan.

Aku lupa kapan perasaan mengebu-ngebu itu hadir dan kapan ia hilang ditelan angan. Kadang segala sesuatu yang berusaha di ingat tentang kita hanya menyisakan luka. Satu-satunya yang hadir hanyalah kesempatan itu sendiri, sampai datang masanya dimana kita mulai sama-sama melupa.

Itulah yang kumiliki, kuinginkan dan hilang pula ia. Aku tau perkara apa yang membuat kita pernah menjadi magnet satu sama lain hingga sampai menjadi lupa antara keterbutuhan semata atau memang rasa ingin mengisi satu sama lain.

Hanya saja satu judul yang tidak terlupakan adalah perihal menyesal, aku dan kau sama-sama tau penyesalan tidak pernah hadir dalam kita, hanya saja persimpangan kita berdua belum bertemu di titik yang sama.

Hal-hal yang luput dalam pandang sedari dulu mulai bermunculan satu persatu. Entah seratus atau seribu tentangmu mendadak menyerangku di satu waktu hingga penuh pelupuk mataku dan perih hatiku di saat yang bersamaan.

Hari ini penuh denganmu atau kemarin kemudian besok juga sama. Selama itu kita sama-sama hidup dalam masa – masa dimana hati lebih banyak berbicara daripada bibir. Sampai datang masanya dimana jarak antara kalut dan resah mulai berdatangan ketika harus berpisah, entah sementara waktu atau berlanjut di periode waktu yang berbeda pula.

Seperti itulah kita

Datang tanpa bicara kemudian kembali pergi ditelan angan.

 

-dewinta

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: